Generasi Cerdas: Kuasai Literasi dan Perangi Bullying


           Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah sering mendengar banyak sekali kasus bullying yang terjadi di Indonesia. Entah itu berupa kekerasan secara fisik maupun secara verbal. Mirisnya lagi, kasus bullying itu sendiri semakin hari semakin terlihat ‘diwajarkan’ di mata masyarakat. Salah satu contohnya dalam kasus tindakan kekerasan secara verbal. Kita sering mendengar seseorang yang menghina, mengejek, atau bahkan kerap melakukan body shaming terhadap seseorang lainnya. Dan dengan mudahnya mereka berlindung di balik dalih, “hanya bercanda”. Padahal, itu semua tidak bisa dikatakan bercanda apabila melukai atau bahkan sampai berdampak pada psikologis seseorang.
              Penyebab seseorang melakukan tindakan bullying bermacam-macam, namun yang paling berpengaruh adalah faktor lingkungan dan juga media. Sedangkan bullying sendiri kini diangap sebagai suatu tradisi yang pasti akan kita temui di sekolah maupun di perguruan tinggi manapun. Jika seorang anak besar di lingkungan yang tanpa sadar menganggap bullying hanya sebagai candaan, ia akan dengan mudah menyerap apa yang dia lihat dan kemudian mempraktekannya. Albert Bandura seorang psikolog mengemukakan Social Learning Theory atau teori belajar sosial, yang mana ia menyatakan bahwa seorang anak akan meniru apa yang telah mereka lihat di lingkungannya. Selain itu, di televisi saat ini juga banyak menayangkan acara-acara yang sebenarnya tidak layak untuk ditonton, bahkan tak jarang dari acara-acara tersebut yang menyajikan adegan kekerasan.
           Sebagai generasi muda yang digadang-gadang sebagai Agent of Change, kita dituntut untuk dapat membawa perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Salah satu yang harus kita ubah adalah perihal kasus bullying yang masih sering kita temui di Indonesia. Untuk dapat meminimalisir bullying itu sendiri hendaknya kita mulai dari diri kita sendiri yang terkadang masih tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan juga termasuk bullying. Terkadang, ketika kita sedang bercanda dengan teman-teman, kita tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang membuat orang tersinggung. Jika kita tidak pernah sadar akan hal itu, kita akan terus-menerus melakukan tindakan bullying. Mengapa? Karena lingkungan kita sendiri juga menganggap itu adalah hal yang wajar.
Lalu, bagaimana cara mencegah terjadinya tindakan bullying?
           Kita harus meningkatkan penguasaan literasi. Mengapa harus literasi? Literasi sendiri tidak hanya sekadar bermakna kemampuan membaca dan menulis seseorang, tetapi juga kemampuan seseorang  dalam memahami dan merasakan apa yang mereka baca maupun apa yang mereka tulis. Lantas, bagaimana penguasaan literasi tersebut dapat memerangi bullying? Orang-orang yang memiliki penguasaan literasi yang baik, akan terbiasa dalam membaca situasi dan menganalisa setiap kejadian yang ada di sekitarnya, karena ia telah belajar banyak hal dengan pemahaman yang ia dapat ketika membaca sesuatu. Sehingga dengan penguasaan literasi tersebut dapat melahirkan sosok pemikir yang cerdas.
           Untuk meningkatkan penguasaan literasi, kita bisa memulainya dengan meningkatkan kecintaan kita terhadap membaca. Membaca satu buku berarti kita telah membuka satu jendela dunia. Dan dengan membaca, kita bisa mengetahui dunia ini dari berbagai sudut pandang. Dan dari macam-macam sudut pandang itulah kita bisa menilai sesuatu yang baik dan buruk. Seperti kata Dr. Seuss, “The more that you read, the more things you will know.”
           Namun, kita tau bahwa minat baca di Indonesia masih sangat minim, bahkan UNESCO mencatat bahwa minat baca di Indonesia hanyalah 0,001%. Hal tersebut menunjukkan rendahnya penguasaan literasi di Indonesia. Itulah sebabnya anak-anak sekarang dengan mudahnya melakukan apa yang mereka lihat di televisi tanpa mencernanya terlebih dahulu perihal baik dan buruknya.
Padahal, dengan banyak membaca kita akan terlatih untuk berpikir kritis terhadap berbagai macam persoalan. Dimulai dari hal yang sederhana saja, ketika kita membaca sebuah novel yang di dalamnya memiliki dua karakter yang saling bertolak belakang dan kedua sudut pandang dari tokoh-tokoh tersebut juga disajikan oleh penulis. Ketika si tokoh A melakukan hal ini dan tokoh B bereaksi seperti itu, tanpa sadar kita sedang belajar sesuatu dari interaksi kedua tokoh tersebut. Kita tau bahwa kita melakukan hal buruk, itu akan berdampak buruk bagi orang lain. Dan dari situ, secara perlahan akan timbul rasa empati dalam diri seseorang. Ia juga akan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya hanya dengan mempelajari gerak-gerik tokoh dalam novel tersebut. Dan ia akan melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dan akhirnya pandangannya akan lebih terbuka. Pelaku bullying sendiri bisa dikatakan sebagai seseorang yang minim akan rasa empati juga tidak memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya sehingga mereka dengan mudahnya melakukan tindakan-tindakan tersebut tanpa memikirkan perasaan orang lain ketika disakiti.
Melalui peningkatan penguasaan literasi, maka kita dapat memperbaiki kualitas sumber daya manusia juga di Indonesia, sebagai sosok pemikir yang cerdas, yang tidak hanya unggul dalam nilai-nilai akademik, tapi juga yang memiliki rasa empati dan kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, perlahan-lahan berbagai macam bentuk tindakan bullying di Indonesia akan terus berkurang.
Bullying adalah hal yang harus mendapat penanganan serius dari pemerintah, jangan jadikan bullying sebagai tradisi di setiap penyelenggaraan Masa Orientasi Siswa di sekolah-sekolah, jangan jadikan bullying sebagai suatu candaan. Jadilah sang agen perubahan  dengan menjadi generasi yang cerdas berliterasi dan perangi bullying.
Generasi Cerdas: Kuasai Literasi dan Perangi Bullying Generasi Cerdas: Kuasai Literasi dan Perangi Bullying Reviewed by a piece of cake on November 14, 2018 Rating: 5

No comments